Lampaui Batas, Unsyiah Hadirkan Pustaka yang Beyond Expetation

PERPUSTAKAAN–Bagi kebanyakan orang, perpustakaan tidak lebih dari tempat sunyi dengan tumpukan buku usang dan berbau. Belum lagi, ruangan yang terkesan formal, kaku, dan tidak menarik.

Sewaktu saya kuliah dulu, tak banyak orang pergi ke perpustakaan. Rata-rata pengunjung yang datang ke perpustakaan adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang bergelut untuk menyelesaikan skripsi. Beberapa adalah mahasiswa yang memang sengaja mencari referensi untuk membuat tugas. Lalu, bagaimana dengan mahasiswa yang memang sengaja ke perpustakaan untuk mencari hiburan atau membaca sekadar untuk refreshing? Jarang sekali. Jikapun ada, pasti hanya atau dua orang saja.

Alasan Perpustakaan Bukan Tempat yang Asyik Dikunjungi

Kadang saya heran, mengapa tempat yang seharusnya menjadi pusat segala kegiatan akademis bisa sangat senyap. Tidak hanya di kenyataan, bahkan dalam sinema (sinetron atau film), perpustakaan selalu digambarkan sebagai tempat yang jauh dari suasana ramai. Suasana sepi seperti itu menunjukan bahwa memang tempat ini jarang dikunjungi. Kalau saya pribadi sih, memang ada beberapa hal yang kadang membuat saya malas ke perpustakaan. Kawan Suzan mau tahu apa saja itu? 

Diakui atau tidak, gedung perpustakaan memang tak jauh dari kesan kaku dan monoton. Gedung yang senyap dan pengap, belum lagi beberapa petugas yang senyumnya lumayan mahal.

Sama-sama lautan buku, mengapa toko buku lebih ramai daripada perpustakaan? Salah satunya karena di toko buku suasananya menyenangkan dan petugasnya ramah. Emh, ini sih pendapat saya pribadi. Soalnya, kalau lagi ada duit saya mending ke toko buku daripada ke perpustakaan. 

Nah, ini yang bikin malas kalau lagi diperpustakaan. Ketika duduk dan membaca atau mengerjakan tugas dalam waktu lama, seringkali tubuh terasa pegal dan perut keroncongan. Maklumlah, mahasiwa sering kali lupa sarapan. Sayangnya, tidak ada tempat yang bisa digunakan sekadar meregangkan otot dan mengganjal perut untuk minta diisi. Ada sih kantin, tetapi harus keluar dari gedung perpustakaan. Kalau udah keluar, sudah dipastikan bakal pulang. Enggak mungkin balik lagi ke perpustakaan walau sebenarnya ingin.

Satu lagi, hal yang paling menyebalkan untuk saya sebagai seorang muslim adalah ketika masuk waktu salat dan saya masih berada di perpustakaan. Dilema, antara mengerjakan perintah agama atau menyelesaikan tugas dosen. Makanya, saya sering kali mengakhiri pergumulan saya dengan buku ketika azan berkumandang. Azan semacam menjadi alarm bagi saya untuk pulang dari perpustakaan. Makanya, saya sangat malas ke perpustakaan  jika mendekati waktu salat.

Mencari buku di perpustakaan itu sesulit mencari jodoh, terutama bagi yang belum terbiasa. Sekalipun sudah ada keterangan di setiap sudut rak, kadang diperlukan kesabaran ekstra untuk menemukan buku yang sedang dicari. Pada zaman saya sering kuliah, sudah ada beberapa komputer yang dapat digunakan untuk menemukan buku yang dicari berada di rak sebelah mana. Sayangnya, mungkin karena masih percobaan, belum semua koleksi ada di database.

Prosedur lain yang bikin ribet itu pada proses peminjaman dan pengembalian. Apalagi, kalau pas petugasnya lagi istirahat. Kadang saya lebih memilih batal pinjam buku daripada menunggu petugas selesai istirahat, kecuali buku yang saya pinjam benar-benar saya butuhkan.

Alasan Malas ke Perpustakaan
Alasan Malas ke Perpustakaan Versi Mamak Mahajeng

Koleksi buku perpustakaan rata-rata adalah buku lama. Jarang sekali buku-buku populer yang baru terbit. Mungkin ini juga salah satu yang membuat pengunjung perpustakaan hanyalah mahasiswa-mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.

Bagi saya, peraturan tidak boleh membawa barang termasuk tas apalagi makanan dan minuman adalah peraturan yang harus dihapus. Bukan apa-apa, bagi orang pelupa seperti saya, larangan membaw atas itu menyusahkan. Saya seringkali bolak-balik antara ruang baca ke ruang loker tas hanya untuk mengambil sesuatu yang kadang sepele.

Tidak boleh membawa makanan dan minuman juga sebaiknya dihilangkan. Apalagi yang lebih nikmat selain membaca sembari minum kopi dan ngemil? J

Nah, itulah alasan mengapa perpustakaan bukan menjadi tempat favorit Mamak Mahajeng ketika dulu kuliah. Saya rasa alasan tersebut juga diamini oleh teman-teman seangkatan saya dan mungkin Kawan Suzan juga.  😆 

Perpustakaan Bukan Hanya Tempat Membaca

Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2007
TENTANG PERPUSTAKAAN

Kebanyakan orang datang ke perpustakaan hanya untuk mencari buku (yang dibutuhkan) saja, biasanya untuk menyelesaikan tugas. Beberapa memang ada yang datang untuk membaca dalam artian sengaja mencari bahan bacaan. Hanya sebatas itu. Intinya, datang ke perpustakaan karena mencari buku.

Padahal, jika merujuk Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, perpustakaan bukan sekadar tempat membaca buku, apalagi tempat penyimpanan buku. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Poin yang harus digarisbawahi adalah memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Jadi, seharusnya perpustakaan menjadi pusat untuk manusia mengembangkan dirinya dan mendapatkan hiburan. Hal inilah yang menjadi acuan para praktisi perpustakaan untuk berbenah. Berbenah atau kalah! Bukan begitu, Kawan Suzan?

Melihat trend dan budaya masyarakat yang semakin maju, tentu saja perpustakaan harus melakukan sesuatu. Bagaimana caranya membuat perpustakaan menjadi tempat yang ingin dikunjungi masyarakat. Berbagai inovasi dan strategi dilakukan.

Kawan Suzan, tahukah bahwa saat ini perpustakaan telah bermetamorfosis? Perpustakaan tidak lagi menjadi tempat untuk membaca buku. Kawan-kawan bisa melakukan banyak hal yang mungkin selama ini tidak pernah dibayangkan oleh Kawan Suzan. Beyond Expetation!

Kebanyakan orang datang ke perpustakaan hanya untuk mencari buku (yang dibutuhkan) saja, biasanya untuk menyelesaikan tugas. Beberapa memang ada yang datang untuk membaca dalam artian sengaja mencari bahan bacaan. Hanya sebatas itu. Intinya, datang ke perpustakaan karena mencari buku.

Padahal, jika merujuk Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, perpustakaan bukan sekadar tempat membaca buku, apalagi tempat penyimpanan buku. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Poin yang harus digarisbawahi adalah memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Jadi, seharusnya perpustakaan menjadi pusat untuk manusia mengembangkan dirinya dan mendapatkan hiburan. Hal inilah yang menjadi acuan para praktisi perpustakaan untuk berbenah. Berbenah atau kalah! Bukan begitu, Kawan Suzan?

Inovasi Perpustakaan Menghadirkan Beyond Expectation

Di era serba digital seperti sekarang, informasi dapat diperoleh dengan cepat dan tak terbatas. Hanya sekali klik, maka informasi apa saja  di dapat. Melihat tren dan budaya masyarakat yang semakin maju, tentu saja perpustakaan harus melakukan sesuatu.  Jadi, apa yang harus dimiliki perpustakaan sehingga orang mau berkunjung dan betah berlama-lama di sana? Perpustakaan harus berinovasi. Perpustakaan harus punya starategi.

Kawan Suzan, tahukah bahwa saat ini beberapa perpustakaan telah berbenah? Beberapa di antaranya bermetamorfosis menjadi perpustakaan yang di luar ekspetasi kita sebelumnya. Perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk membaca buku. Namun, kawan-kawan bisa melakukan banyak hal. Beyond Expetation!

Apa saja inovasi-inovasi yang dihadirkan perpustakaan untuk kita?

Perpustakaan identik dengan bangunan kaku dan monoton. Sunyi, pengap, dan gelap karena pencahayaan yang kurang. Padahal kenyamaan merupakan faktor penting untuk manusia melakukan aktivitasnya. Bagaimana mau nyaman membaca jika ruangannya saja tidak nyaman. Iya, kan?

Tapi eh tapi … itu perpustakaan zaman baheula. Saat ini, banyak kok perpustakan yang menghadirkan desain menarik, penataan interior yang indah dan nyaman. Bukan sekadar memberi kenyamanan secara lahiriah dengan kursi empuk atau cahaya terang, tetapi juga menawarkan keindahan estetika yang membuat suasana hati nyaman.

Nah, coba deh kawan Suzan amati perpustakaan-perpustakaan berikut! Rasanya bener-bener nyaman dan bikin betah. Seandainya deket, Mamak Mahajeng pasti menjadikan tempat-tempat tersebut untuk me time, minimal buat tongkrong dan swafoto.   😎 

Gambar diambil dari berbagai sumber.

Diakui atau tidak, ada beberapa peraturan perpustakaan yang menghambat perkembangan perpustakaan itu sendiri. Oleh karena itu, beberapa perpustakaan mengoreksi peraturan yang ada sehingga lebih ramah pengunjung. 

Salah satu perubahan aturan itu adalah pada keterbukaan keanggotaan. Dulu tidak semua orang berani datang ke perpustakaan. Pasalnya, perpustakaan biasanya membuka keanggotaan tertutup. Namun, hal itu enggak berlaku untuk zaman now. Semua orang dapat memanfaatkan perpustakaan. Siapa saja dapat datang. Jadi, perpustakaan benar-benar menjalankan fungsinya sebagai fasilitas publik.

Orang rata-rata malas ke perpustakaan karena perpustakaan jauh dari fasilitas penunjang seperti tempat beribadah atau tempat makan. Hal itu disadari oleh praktisi perpustakaan. Maka tak heran jika saat ini banyak perpustkaan yang memberikan fasilitas yang dapat mengakomodasi kebutuhan pemustaka sehingga betah di perpustakaan.

Kenyamanan adalah faktor penting untuk sebuah tempat. Tempat yang nyaman akan membuat orang di dalamnya juga betah berlama-lama. Makanya beberapa perpustkaan hadirkan nuansa baru  agar pemustaka nyaman dan betah berada di perpustakaan.

perpustakaan keren
Perpustakaan Universitas Malahayati, Bandar Lampung

Pola pikir bahwa perpustakaan hanyalah tempat membaca mulai dihapuskan. Saat ini, perpustakaan menjadi tempat pusat kegiatan masyarakat. Perpustakaan menjadi wadah untuk berkegiatan. Seperti yang termaktub dalam undang-undang, sebagai pusat pendidikan juga rekreasi.

Perpustakaan harus dapat menyediakan tempat untuk masyarakat melakukan berbagai kegiatan. Ada arena anak untuk bermain dan belajar anak-anak, ada ruang yang dapat digunakan untuk berdiskusi, ada ruang serbaguna.

Dengan menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan masyarakat, masyarakat akan terbiasa bersentuhan dengan perpustakaan. Tak kenal maka tak sayang. kalau sudah kenal, ya disayang-sayang. Mungkin begitu yang diharapkan.

Praktis. Semua orang menginginkan segala kepraktisan. Hal ini ternyata sudah menjadi kajian beberapa pustakawan. Saat ini sudah banyak perpustakaan yang melebarkan sayapnya dengan teknologi digital. Tidak hanya e-library, perpustakaan saat ini sudah berinovasi menjadi m-library berbasis aplikasi. Alasannya sederhana, agar siapa saja dapat membaca di mana saja dan kapan saja. 

Saya termasuk yang beruntung hidup di era modern seperti sekarang. Pasalnya, sebagai ibu rumah tangga dengan dua balita yang memiliki keterbatasan mobilitas saya tetap bisa memuaskan dahaga akan bahan bacaan. 

Menuju Perpustkaan Masa Depan
Inovasi Menuju Perpustakaan yang Lebih Baik

Selain yang saya sebutkan di atas, masih banyak lagi inovasi-inovasi yang dilakukan perpustakaan untuk mendapat hati di masyarakat. Beberapa inovasi yang dilakukan sungguh beyond expectation, seperti halnya yang dilakukan satu-satunya perpustakaan yang lulus sertifikasi ISO 27001, Perpustakaan Universitas Syiah Kuala.

Unsyiah Berinovasi untuk Hadirkan Pustaka yang Beyond Expectation

Kondisi perpustakaan Unsyiah pada tahun 2009 sangat memprihatinkan. Hidup segan, mati pun enggan. Mulai 2012, Pustaka Unsyiah mulai berbenah. Namun sayangnya, usaha mengoleksi e-jurnale-book, e-tesis juga berbagai sosialisasi pustaka Unsyiah yang dilakukan tidak membuat perpustakaan ini ramai pengunjung. Berbagai upaya terus dilakukan oleh UPT. Perpustakaan Unsyiah, mulai dari menghadirkan digital corner, membentuk kelas literasi, membuat portal aplikasi, perbaikan sistem sirkulasi pustaka, hingga perbaikan-perbaikan fisik dan menambah koleksi buku.

Kondisi Unsyiah Sebelum Berbenah
Kondisi Unsyiah Sebelum Berbenah

Akhirnya usaha UPT Perpustakaan Unsyiah untuk bangkit terjawab juga. Pada tahun 2015, Perpustakaan Universitas Syiah Kuala menerima sertifikat ISO 9001:2008 dari PT TUV Rheindland Indonesia. Mutu pelayanan Pustaka Unsyiah dinilai telah memenuhi standar nasional. Lalu pada tahun 2016, Perpusnas memberikan akreditasi A pada UPT Perpustakaan Unsyiah. Selanjutnya, pada 2018 Pustaka Unsyiah kembali mendapat penghargaan. Berkat Keamanan Informasi Sistem Perpustakaan dengan aplikasi OPAC, OER, dan Room Booking, Pustaka ini mendapat sertifikasi internasional ISO 27001.

Lalu, sebenarnya apa saja sih yang dilakukan Pustaka Unsyiah hingga dapat menjadi perpustakaan berprestasi? UPT Perpustakaan Unsyiah benar-benar memikirkan konsep perpustakaan yang mengikuti zaman dan melawan batas. Pustaka Unsyiah mendobrak hal-hal diluar batas. Ia menjadikan perpustakaan menjadi beyond expectation. Tidak pernah dipikirkan sebelumnya bahwa perpustakaan dapat dibuat semacam ini.

Berkat renovasi besar-besaran, Pustaka Unsyiah kini dapat berpuas hati. Pasalnya, perpustakaan ini kini sudah bernyawa. Kesan gedung kaku pada perpustakaan nyaris dihilangkan. UPT Perpustakaan Unsyiah mencoba menawarkan suasana yang benar-benar hommy. Suasana yang nyaman untuk membaca. Pengunjung dapat memilih tempat membaca yang nyaman sesuai kebutuhannya. Duduk di kursi untuk mengerjakan tugas, duduk santai sambil lesehan atau leyeh-leyeh dapat dilakukan. Jangan sungkan untuk membaca sembari tiduran karena tempat membaca untuk laki-laki dan perempuan dibuat terpisah.

 

Kafe di Dalam Perpus
Libri Cafe: Kafe di Dalam Perpusatkaan

Nah, ini inovasi yang perlu diacungi jempol. Benar-benar mengikuti trend an perkembangan anak muda. Mungkin gagasan ini muncul karena keresahan para pustakawan yang mahasiswanya lebih memilih nongkrong di kafe daripada di perpustakaan. Daripada perpustakaan mati, mengapa tidak menghadirkan kafe di perpustakaan.

Dulu, mana ada konsep semacam ini. Di perpustakaan pengunjungnya dilarang membawa makanan dan minuman. Hal ini tentu mengganggu terutama jika kita butuh berada di perpustakaan dalam jangka waktu lama.

Coba deh bayangkan, betapa nikmatnya membaca sembari ngopi dan ngemil! J

Menikmati bacaan, kopi, dan mendengarkan lagu. Wuih … mantap banget kan Kawan Suzan! Kalau perpustakan zaman dahulu, boro-boro menikmati musik, berbicara sedikit keras saja pasti dilarang.

Hal tersebut tidak berlaku di Pustaka Unsyiah. Pemustaka bisa kok menikmati bacaan sembari mendengarkan musik. Benar-benar inovasi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Oh, iya! Selain menampilkan pertunjukan musik, panggung relax dan easy ini menjadi panggung bakat untuk menyalurkan kreativitas mahasiswa. Bisa pembacaan puisi, musik, teatrikal, dan kreativitas lainnya. Panggung Relaz n Easy ini terletak di samping Libricafe.

Suasana Relax n Easy di Pustaka Unsyiah

Korean Corner Unsyiah

Saya beneran heran banget deh sama pustakawan Unsyiah ini. Ada saja idenya. Tak bisa dipungkiri sih kalau wabah Korea sudah menjangkiti kaum perempuan di Indonesia. Bukan hanya anak mudanya, tapi juga kaum ibu-ibu muda seperti Mamak Mahajeng.

Nah, melalui Korea Corner pustakawan di UPT Perpustakaan Unsyiah ingin memanjakan pemustaka akan keingintahuan dan ketertarikannya dengan sesuatu yang berhubungan dengan Korea.

Di tempat ini, pemustaka dapat membaca berbagai buku tentang Korea, belajar bahasa Korea, bahkan menonton drama Korea. Kalau kawan Suzan berkunjung ke sana, kawan-kawan juga dapat memakai hanbok, pakaian tradisional Korea.

Emh, siapa yang menyangka sih perpustakaan bisa dibuat semacam ini. Pasti di luar dugaan kawan-kawan juga kan?

Pustaka Unsyiah benar-benar memahami kebutuhan pemustakanya. Pustaka Unsyiah hadirkan UILIS, portal aplikasi berbasis android. Dengan aplikasi ini, pemustakan dapat mengakses perpustakaan dengan lebih mudah.  Selain dapat digunakan untuk melakukan perpanjangan pinjaman, pemustaka juga dapat mencari referensi seperti jurnal atau laporan ilmiah lainnya.

Ulis Mobile
Tampilan UILIS

Kalau kawan-kawan termasuk orang seperti saya yang suka sebel kalau harus menunggu antrean petugas perpustakaan, maka sekali-kali cobalah berkunjung ke perpustakaan unsyiah. Di sini kawan-kawan tidak harus menunggu petugas melayani pemustaka secara manual. Ada fasilitasi yang dapat kawan-kawan gunakan untuk memudahkan pelayanan, yaitu pelayanan mandiri. Enak banget, kan?

Pelayanan Mandiri

Pustakawan di UPT Perpustakaan Unsyiah benar-benar mengerti kebutuhan pemustaka. Oleh karena itu, Pustaka Unsyiah menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang yang dapat mengakomodasi kebutuhan pemustaka: seperti ruang salat, ruang diskusi, makerspace, dan laboratorium pertunjukan.

Sebagai sebuah lembaga, Pustaka Unsyiah adalah lembaga yang cerdas. Yups, membenahi bangunan fisik tanpa memasarkan dan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya sebuah perpustkaan adalah kesalahan besar. Oleh karena itu, Pustaka Unsyiah memiliki strategi jitu dalam mempromosikan perpustakaannya.

Unsyiah mempunyai program Duta Baca. Program ini saya rasa baik sekali untuk mengedukasi lingkungan sekitar untuk gemar berpustaka. Selain itu, ada juga penghargaan Library Award untuk peminjam buku terbanyak. Semacam bentuk apresiasi untuk pemustaka. Pustaka Unsyiah juga sering mengadakan seminar dan balai latih tentang perpustakaan kepada instansi dan lingkungan sekitar. Oh iya, ada juga Unsyiah Library Fiesta sebagai puncak kegiatan literasi di Pustaka Unsyiah. Hal ini menjadikan keberadaan Pustaka Unsyiah semakin berkelas. Hal yang tidak pernah terpikirkan bakal dilakukan oleh sebuah UPT Perpustakaan, bukan?

Duta Baca
Duta Baca sebagai Salah Satu Garda Depan Kegiatan Literasi di Pustaka Unsyiah

Lampaui Batas, Pustaka Unsyiah Menjadi Perpustakaan Percontohan

Prestasi Unsyiah yang mampu mengembangkan perpustakaannya menjadikan UPT. Perpustakan Unsyiah rujukan bagi universitas lain. Seperti yang dilakukan Muhammad Arifin, MPd- Plt Kepala UPT. Perpustakaan UMSU yang mengunjungi UPT. Perpustakaan Unsyiah pada 28-29 Desember 2017 lalu.  Muhammad Arifin mengaku mengunjungi Pustaka Unsyiah untuk belajar mengelola perpustakaan.

Hal senada juga dilakukan Universitas Negeri Semarang. UNNES merujuk Unsyiah sebagai tempat menimba ilmu karena menganggap sistem informasi teknologi Unsyiah dan jurnal online yang dilanggan oleh Unsyiah lebih unggul dibanding universitas lain. Hal ini menunjukan bahwa inovasi-inovasi Unsyiah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya mampu menjadi inspirasi bagi institusi lain.

Selain menjadi sumber inspirasi bagi institusi lain, keberhasilan Pustaka Unsyiah juga membuat banyak institusi menjalin kemitraan. Seperti halnya yang dilakukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa, Aceh. Untuk meningkatkan manajemen perpustakaan, IAIN Langsa menggandeng Perpustakaan Unsyiah. Alasannya, Pustakan Unsyiah telah memiliki akreditasi A dan memenuhi standar kepustakaan internasional,

Penutup

Usaha-usaha yang dilakukan Pustaka Unsyiah menunjukan adanya kesadaran serius untuk meningkatkan peran perpustakaan sebagai pusat peradaban. Apa yang dilakukan Pustaka Unsyiah telah mengilhami pustaka-pustaka lain berbenah. Namun, ada satu hal yang harus kita lakukan. JikaUPT. Perpustakaan sibuk membenahi pustakanya, maka kita sebagai masyarakat harus membenahi pola pikir kita. Mari tingkatkan keingantahuan kita agar semakin gemar membaca, gemar memanfaatkan pustaka kita. Sumber kekayaan alam pikiran.

Rujukan

  1. http://perpustakaan.umsu.ac.id/ke-unsyiah-belajar-pengelolaan-perpustakaan/
  2. https://unnes.ac.id/berita/ingin-raih-akreditasi-institusi-a-unnes-belajar-ke-unsyiah/
  3. http://detak-unsyiah.com/headline/pustaka-unsyiah-hidup-segan-mati-tak-mau.html
  4. http://detak-unsyiah.com/feature/gencar-berbenah-pustaka-unsyiah-tetap-sepi.
  5. htmlhttp://detak-unsyiah.com/headline/sirkulasi-pustaka-unsyiah-segera-beralih-ke-sistem-rfid.html
  6. http://www.iainlangsa.ac.id/detailpost/tingkatkan-layanan-perpustakaan-iain-langsa-gandeng-perpustakaan-unsyiah
  7. https://news.okezone.com/read/2015/07/13/65/1180805/raih-sertifikat-iso-perpustakaan-unsyiah-kini-bertaraf-internasional
  8. https://midahponggeok.blogspot.com/2016/08/selamat-perpustakaan-unsyiah-kembali.html
  9. https://www.brilio.net/wow/perpustakaan-ala-hostel-ini-sediakan-kasur-di-dalam-rak-betah-deh-161129q.html#
  10. https://asikterus.com/perpustakaan-unik-seperti-hostel/
  11. https://www.ikons.id/18-perpustakaan-modern-dari-seluruh-dunia/

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Unsyiah Library Festival 2019 yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Universitas Syiah Kuala.

10 komentar untuk “Lampaui Batas, Unsyiah Hadirkan Pustaka yang Beyond Expetation”

  1. Perpustakaan harusnya jadi tempat yang nyaman buat membaca sekaligus refresing.

    Selamat buat UNSYIAH telah berhasil menciptakan perpustakaan yang nyaman dan memenuhi kriteria sehingga berhasil mendapatkan sertifikat ISO.

  2. Kalau ke perpustakaan bayangannya pasti buku di setiap jengkal ruangan, meja, kursi dan heniiiiiingg.
    Inovasi yang dilakukan Unsyiah benar-benar luar biasa, karena bisa merubah pemikiran seperti itu dan berhasil menunjukkan bahwa di perpustakaan kita bisa santai dan bisa makan dan dengar musik dan ngobrol dan lain sebagainya.
    Mantap! Maju terus perpus Unsyiah.

  3. Paling suka kalau ada perpus yang beyond expectation macam ini. Dulu pas berkunjung ke perpusnas aja udah girang banget aplagi ini ada cafeeee… Emang temannya buku kan kopi yaa.. Kapan bisa ke Unsyiah library yaa

  4. Perpustakaan memang selayaknya tidak hanya menjadi tempat meminjam buku semata. Harus dilakukan inovasi-inovasi guna memancing pengunjung yang lebih baik yang nantinya berdampak pada semakin meningkatnya minat baca masyarakat.

  5. duuh, klo semua perpustakaan universitas2 berbenah dan bisa seperti ini, yakiijn deeeh perpustakaan bakalan jadi tempat nongkrong paling favorit se kampus. Mahasiswa jadi makin cerdas deh 🙂

  6. Saya juga biasa malas banget datang ke Perpus klu fasilitasnya terutama (masjid/mushallah) gak ada. Btw keren banget yaak inovasi yang dibuat perpustakaan Unsyiah ini, mbak. Pasti saya juga bakal nyaman berlama-lama berkunjung ke Perpus klu model perpustakaannya kayak Unsyiah ini.

  7. setuju mbak, perpustakaan kini menjadi tempat berkegiatan. Di Bandung konsep perpustakaan semakin berkembang sehingga orang yang hobi ke perpustakaan bukan hanya orang jaman old saja, namun anak muda jaman now pun ikut. Ini menjadi salah satu cara menanamkan semangat membaca buku di kalangan anak muda, remaja dan anak-anak

Bagaimana Menurut Kalian?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.