Industri 4.0 Beri Peluang Perempuan Jalankan Peran Rumah Tangga dan Berkarya

Sahabat           : Beb, sepertinya aku mau resign aja deh!

Saya                : Kenapa memang?

Sahabat           : Gajinya udah enggak cocok. Biaya ongkos pergi-pulang sama gaji udah enggak nutup. Kalau gini terus, bisa tekor.

Emh … itu obrolan saya dengan sahabat di sebuah aplikasi pesan. Sahabat saya adalah pengajar lepas di salah satu bimbingan belajar konvensional. Dulu saya juga pernah mengajar di sini, tapi resign terlalu dini. Emh, pada masa kejayaannya, menjadi pengajar bimbingan belajar ini adalah salah satu prestasi. Selain karena seleksi masuknya ketat, honornya juga lumayan. Sekalipun jadi guru honorer di sekolah negeri, kebutuhan masih bisa ditutup dari honor ngajar di bimbel ini.

Sayangnya, tak ada yang abadi selain perubahan. Iya, kan? Begitu pula dengan kejayaan bimbingan belajar konvesional. Zaman selalu bergerak. Mau tidak mau, kita juga tidak boleh diam di tempat.

Beberapa orang begitu cerdas menangkap peluang perkembangan teknologi. Ketika semua hal dimudahkan oleh akses digital, beberapa pelaku bisnis bimbingan belajar membidik pasar baru dengan membuat bimbingan belajar online.

Kawan-kawan pasti tahu dong dengan start up Ruang Guru? Dengan kejeliannya melihat masalah sekaligus menawarkan ide, start up Indonesia ini berhasil meraih tiga penghargaan dalam kompetisi global MIT-SOLVE yang digelar di New York, Amerika Serikat. Ruang Guru mamfasilitasi orang-orang yang mempunyai kompetensi mengajar memiliki penghasilan tambahan dan memudahkan masyarakat mendapat pendidikan dengan cara yang sangat mudah.

Jadi, apa yang dapat kita pelajari dari kasus ini?

Di satu sisi, perkembangan teknologi memang membuat beberapa orang kehilangan pekerjaan; di sisi lainnya, perkembangan teknologi memunculkan pekerjaan baru.

Menuju Revolusi Industri

Perjalanan Revolusi Industri

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dari waktu ke waktu. Dunia industri pun berusaha menyesuaikan. Pada 1750-an ditemukan mesin uap dan kereta api untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan  menandai perubahan besar dalam industri yang akhirnya dikenal dengan revolusi industri 1.0.

Kemudian, pada tahun 1870-an mulai ditemukan listrik dan motor pembakaran yang akhirnya memicu terciptanya alat komunikasi dan transportasi memunculkan revolusi industri 2.0. Pada tahun 1960-an ketika mulai ditemukan teknologi digital munculah revolusi 3.0. Muncul digitalisasi di berbagai bidang. Jarak dan waktu semakin tak memiliki batas. Satu per satu pekerjaan-pekerjaan yang semula dilakukan manusia diambil alih oleh mesin dan robot.

Ternyata, perkembangan teknologi ini selain memberi manfaat juga menciptakan dampak besar. Banyak perusahaan besar yang tidak mampu bersaing menghadapi revolusi industry 3.0 terpaksa gulung tikar. Revolusi industry 3.0 menunjukan bahwa semua bisa bersaing dan mengambil peran dalam dunia industri. Keberhasilan pelaku industri tidak didasarkan pada besar kecil perusahaan, tetapi bagaimana kejelian dan kelincahan mengambil peluang.

Dengan kemampuan beradaptasi atas disrupsi teknologi dan perpaduan teknologi fisik dan digital, masyarakat dihadapkan pada revolusi industry 4.0. Dengan kemampuan analitik, teknologi kognitif, kecerdasan buatan, dan internet of things (IoT), pelaku industri dihadapkan pada tantangan untung menghadirkan perusahaan digital yang  memberi efek langsung pada kehidupan nyata.

Nah, pertanyaannya adalah

Siapkah kita?

Potensi Perempuan Indonesia dalam Revolusi Industri 4.0

Kalau kita berbicara mengenai industry 4.0, maka kita tak bisa lepas dari membicarakan penggunaan internet.

Berdasarkan laporan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (AJPII) 2017, 48,57% dari 132,7 juta jiwa pengguna internet di Indonesia adalah perempuan. Sementara itu dari sekian banyak pengguna internet, dua layanan terbanyak yang diakses adalah chatting dan sosial media yakni 89,35% dan 87,13%. Sementara itu yang pengguna yang mengakses internet untuk kegiatan ekonomi (jual produk) hanya 8,12%.

Jadi, bagaimana menurut kawan-kawan?

Kita mempunyai kekuatan besar dalam jumlah pengguna internet, sayangnya kebanyakan hanya digunakan untuk gaya hidup saja, tidak merambah pada industri kreatif. Padahal peluang itu sangat besar.

Mau sampai kapan sih memanfaatkan internet hanya sekadar say hello dan chit-chat dengan aplikasi pesan? Enggak rugi saat yang lain dapat produktif hanya dengan memanfaatkan laptop/ smartphone yang tersambung internet, sedang kita hanya sibuk perang status di facebook? Kepo-kepon akun selegram dengan menggunakan tagar (#) tertentu. Ayolah, kita bisa lebih berdaya dari ini. 

Resign Menjadi Tonggak Awal Pemahaman Baru akan Peluang Tanpa Batas Industri 4.0

Beberapa tahun silam, ketika saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih di rumah, banyak sekali pro dan kontra. Eh, tidak! Lebih banyak kontra daripada yang pro,tepatnya

Enggak sayang sama ijazah, Non? 

Enggak kasihan orang tua udah nyekolahin? 

Enggak mau bergantung sama orang tua? Dan masih banyak lagi.

Dan kalau saat ini ditanya, nyesel enggak di rumah saja?

Akan saya jawab dengan tegas (Caps Lock, Bold, Italic). J

TIDAK!

Emh … saya bersyukur pernah berada di titik ini. Di titik ketika hanya berada di rumah untuk membersamai anak. Di sini saya menemukan banyak pelajaran berharga. Salah satunya adalah di era yang serba canggih ini, tidak ada batasan untuk produktif dan berkarya.

Siapa bilang wanita hanya bisa berleha-leha di rumah? Siapa bilang wanita enggak bisa cari duit di rumah? Siapa bilang ilmu yang didapat sewaktu kuliah sia-sia kalau memilih di rumah?

TIDAK … TIDAK … TIDAK! Sama sekali itu tidak benar.

Ingat kan sama yang sampaikan di atas, bahwa di era industry 4.0 ini semua bisa bersaing dan berpeluang untuk sukses. Hanya kita mau atau tidak menangkap peluang.

 

Jika dulu perempuan tidak dapat berkembang karena keterbatasan ruang gerak—perempuan apabila sudah berumah tangga terlebih memiliki anak umunya memiliki ruang gerak yang tak sebebas laki-laki. Dengan datangnya industry 4.0 ini, hal tersebut tidak berlaku.

Sekalipun menjadi ibu yang memilih bekerja di ranah domestik, perempuan dapat berkarya tanpa batas. Suami dan anak terurus, fulus masuk kantong terus.

Perempuan yang bisa memasak, bisa membisniskan hasil masakannya melalui internet. Andai kerepotan memasak, resep masakan andalan pun dapat dibisniskan. Membuat buku resep masakan berupa buku cetak atau e-book bahkan membangun blog berisi resep masakan dapat memberi keuntungan. 

Salah satu perempuan yang dapat memanfaatkan industri 4.0 dengan kemampuannya di dapur adalah Cynthia Tenggara dengan berrykitchen-nya.  Ia membuat start up di bidang katering makanan. 

Perempuan yang suka menjahit dapat memasarkan baju jahitannya melalui internet. Tinggal memilih media sosial atau membangun toko online sendiri. 

Perempuan yang suka berfoto ria dapat menjual jasa endorse atau buzzer produk. Hati senang, dompet mengembang. Ssst, udah tahu belun jika tarif endorse Ria Ricis konon mulai Rp5juta, lho. Industri 4,0 benar-benar memberi peluang tanpa batas sebenarnya.

Intinya, kita harus tahu kekuatan yang dimiliki lalu belajar dan terus belajar agar kekuatan yang dimiliki bisa menjadi modal bersaing di industry 4.0 saat ini.

Ngeblog: Salah Satu Cara Saya Mengambil Peran di Industri 4.0

Awalnya saya mencoba membuat blog karena saya merasa useless. Saya merasa kok hidup saya gini-gini saya ya. Ada saat ketika menjadi ibu penuh waktu, rutinitas yang monoton membuat jenuh.

Beruntung saya bertemu orang-orang baik di komunitas Infinity Lovink dan Ibu Profesional. Di lingkup orang-orang yang memiliki energi positif, saya memilih menulis untuk menjadi berarti. Tujuan utama saya tadinya adalah membagi ilmu semasa kuliah yang notabene penting untuk teman-teman yang suka menulis di sekitar saya. Semakin ke sini, saya justru semakin tersadar ada banyak hal yang saya dapatkan.

Jangan salah! Jangan menganggap bahwa ngeblog itu buang-buang waktu saja! Ngeblog bukan semata menyalurkan hobi nulis. Sebuah blog yang berhasil dibangun dengan baik akan mampu mendatangkan income passive yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Berikut ini mengapa seorang perempuan harus mulai membangun rumah virtualnya.

1. Menjaga Kewarasan

Penting sekali untuk menjaga kewarasan. Wanita yang waras akan mengantarkan lelakinya menjadi lebih baik. Wanita yang waras akan membuat anaknya berhasil dan bahagia. Dan, salah satu cara menjadi waras adalah menulis di blog.

Perempuan membutuhkan  20 ribu kata untuk dikeluarkan setiap harinya. Dengan kondisi suami berangkat kerja pagi dan pulang petang, anak masih balita maka solusi apa yang lebih baik daripada menulis untuk memenuhi kebutuhan 20 ribu kata tersebut? Jika ada, bisa kawan-kawan sampaikan di kolom komentar. 

2. Toko Online

Bagi perempuan yang memiliki produk baik berupa barang atau jasa, blog merupakan toko yang bisa diandalkan untuk memajang produk kita.

Tanpa saya sadari, tulisan-tulisan di blog ini mendatangkan rezeki bagi saya.

Beberapa orang yang tertarik untuk dibuatkan tulisan mengontak saya karena melihat isi blog ini.

Bukankah rezeki datang dari pintu mana saja, pun pintu yang tidak kita sadari sebelumnya?
Mendapat Penghasilan Tambahan

Dari membaca berbagai artikel mengenai monetasi blog, saya yakin bahwa blog bisa menghasilkan. Ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk menghasilkan uang dari blog. Bisa iklan, menyangkan tulisan sponsor, dan ikut lomba.

Tulisan ini menjadi pemenang ke-5 lomba Qlapa dan mendapatkan emas batang 1 gram dan voucher belanja sebesar Rp100.00. Padahal ketika membuat tulisan ini, blog saya baru berusia 1 bulan. Sejak saat itu, saya yakin saya dapat melakukan banyak hal dengan blog yang saya buat.Saya beruntung bertemu dengan Qlapa. Sayangnya, start up yang menggandeng pengrajin lokal itu beberapa waktu yang lalu menyatakan epilog perpisahanannya.

4. Sarana Berbagi

Seperti yang saya sampaikan di atas, memilih menjadi ibu rumah tanggah penuh waktu bukan berarti menjadikan apa yang kita pelajari semasa kuliah jadi sia-sia. Salah satu cara saya berbagi ilmu adalah dengan menuliskannya di susanadevi.com.

Saya sendiri sadar bahwa apa yang saya miliki belumlah seberapa. Namun, sesedikit apapun ilmu yang dibagi saya yakin akan mem bawa manfaat. Semoga

#BuildSuccesOnline dengan Blog Bersama Niagahoster

Semua orang dapat membuat blog dengan mudah (katanya). Ada platform gratis, ada juga yang memerlukan biaya. Untuk membuat blog dengan biaya nol rupial, kawan-kawan dapat memanfaatkan blogspot.com atau wordpress.com.

Kalau saya termasuk yang nekat. Tidak tahu seluk beluk dunia ngeblog, saya langsung mencoba wordpress.org. Bukannya apa-apa, saya hanya berpikir jika saya mengeluarkan biaya makan akan usaha lebih yang akan dan harus saya lakukan.

Dan … benar saja. Sejak awal pembangunannya, saya harus berusaha cukup keras. Beruntung saja memilih Niagahoster sebagai penyedia layanan hostingnya. Saya memilih paket pelajar dengan harga Rp504.725. Saat itu sepertinya lagi ada promo. Mengapa saya menjatuhkan pilihan pada Niagahoster? Karena sewa hosting, gratis domain. Hiyyyaa, emak-emak banget ya.

Bermodal tekad dan sedikit nekad, saya memulai susanadevi.com dari titik nol. Saya bangun rumah virtual ini dengan bantuan google, youtube, artikel di Niagahoster, juga bantuan admin Niagahoster. Yups, saya beruntung costumer services Niagahoster benar-benar sabar dan telaten memandu emak-emak yang sok-sokan mau ngeblog ini.

Sejak 27 Juli 2018, pertama kali menyewa hosting di Niagahoster, hingga saat ini. Saya merasa puas dengan kinerja layanannya. Sebagai seorang yang awam dalam dunia blogging, saya belum pernah mengalami kendala yang berarti semenjak membangun wordpress dengan Niagahoster.

Oh iya, sebelum memutuskan membeli hosting di Niagahoster, saya sempat membaca ulasannya di sini. Barangkali teman-teman membutuhkannya. Saya jadi yakin jika Niagahoster adalah hosting terbaik

Simpulan

Zaman selalu berubah. Teknologi selalu berkembang. Mau tidak mau, kita harus menjadi kreatif dan mampu beradaptasi dengan baik.

Perempuan seringkali dianggap makhluk yang lemah. Perempuan sering dianggap makhluk yang tak bebas. Dengan adanya industry 4.0 ini, perempuan dapat mulai bergerak. Membuktikan bahwa perempuan pun bisa bersaing dalam menghadapi industry 4.0

Rujukan

  1. Anonim. 2017. Infografis Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet 2017. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
  2. https://www.maxmanroe.com/revolusi-industri-4-0.html#sudah_siapkah_menghadapi_revolusi_industri_40
  3.  https://id.beritasatu.com/home/revolusi-industri-40/145390
  4.  https://www.gotomalls.com/articles/selebgram-indonesia-dengan-bayaran-termahal-2018
  5.  https://blog.ruangguru.com/mewakili-indonesia-ruangguru-raih-3-penghargaan-di-mit-solve

9 komentar untuk “Industri 4.0 Beri Peluang Perempuan Jalankan Peran Rumah Tangga dan Berkarya”

  1. Iyess!!! Saya pro dengan wanita yang bekerja di rumah namun tetap memberikan karya yg terbaik. Tanpa meninggalkan anak dan keluarga.

  2. Iya saya juga menjaga kewarasan dengan menulis di blog. Selain nambah wawasan juga bisa saling interaksi melalui kolom komentar.

Bagaimana Menurut Kalian?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.