Sinergi Pers dan GPR untuk Wujudkan Ekonomi Digital

Hidup di era digital itu gurih-gurih sedap. Semua serba cepat dan mudah. Sedikit saja tertinggal, bakal terlindas. Bagaimana pun, perkembangan zaman tak bisa dingkari. Mau tak mau, kita sendiri yang harus menyesuaikan diri. Kenyataan semacam ini disadari betul oleh pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah tengah melakukan berbagai upaya menjadikan masyarakatnya siap menghadapi era digital.

Salah satu hal yang  menjadi program besar pemerintah adalah menyiapkan masyarakat siap bersaing dalam perekonomian digital. Mengapa ekonomi digital? Seperti yang saya katakan di awal, hidup di era serba digital menuntut kita melakukan digitalisasi di berbagai bidang, salah satunya ekonomi. Ekonomi yang kuat akan menjadikan masyarakat sejatera.

Potensi Pasar Digital di Indonesia

Jumlah penduduk Indonesia sangat tinggi, yakni lebih dari 40% dari total jumlah penduduk di ASEAN. Jumlah yang besar ini tentunya adalah target pasar yang sangat bagus. Masalahnya, apakah penduduk sebanyak ini dapat dimanfaatkan untuk berdaya di negaranya sendiri atau justru dimanfaatkan negara lain?

Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa pada tahun 2017 ada 143,26 juta jiwa dari 262 juta jiwa yang menggunakan internet. Itu artinya, lebih dari setengah jumalh penduduk di Indonesia sudah akrab dengan internet. Masih berdasarkan data yang sama, sebanyak 50,08% dari jumlah penduduk memilki smartphone atau tablet. Internet pun tidak hanya diakses oleh penduduk ekonomi atas. Hal itu terbukti dengan data penetrasi pengguna internet berdasarkan level ekonomi yang menunjukan bahwa internet diakses oleh 74,62 % masyarakat kelas ekonomi atas, 16,02% masyarakat ekonomi kelas menengah, 1,98% masyarakat ekonomi kelas bawah, dan  7,39% masyarakat ekonomi kelas sangat bawah.  Artinya, semua lapisan masyarakat sudah terjamah oleh teknologi ini.

Permasalahannya adalah untuk apakah mereka menggunakan internet ini? Ternyata, 89,35% mereka gunakan untuk chatting. Sementara itu, sebanyak 32,19% menggunakannya untuk membeli barang dan hanya 8,12% saja yang menggunakannya untuk menjual barang. Itu artinya, jumlah pengguna internet yang menggunakan internet untuk kegiatan produktif masih sangat kecil sekali bukan? Bahkan, jika berbicara pasar digital, masyarakat kita cenderung menjadi konsumen daripada produsen atau distributor. Oleh karena itu, pemerintah wajib mengedukasi masyarakat agar dapat menggunakan potensi yang sebenarnya dimiliki. 

Perlunya Peran Pers untuk Mewujudkan Digitalisasi Ekonomi Kemasyarakatan

Visi pemerintah menjadikan masayarakat berbasis ekonomi digital tidak main-main. Melalui  Paket Kebijakan Ekonomi XIV,  pemerintah menargetkan Indonesia sebagai negara ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara pada tahun 2020. Dengan segala potensi yang dimiliki sekaligus analisis hambatan yang ada, pemerintah sudah menyiapkan peta jalan Peta Jalan E-Commerce 2017-2019. Peta jalan ini digunakan sebagai acuan pemerintah membuat rencana dan program untuk mewujudkan target tersebut.

 

Sumber: Indonesiabaik.id

Perkembangan ekonomi digital sebenarnya sudah masuk ke seluruh sendi  kehidupan kita. Bukan sekadar e-commerce, tetapi juga transportasi, pendidikan, komunikasi, kesehatan, dan sebagainya. Pemerintah pun membuat banyak program untuk menunjang Indonesia menuju ekonomi digital, seperti adanya program 1.000 Startup Digital, UMKM Go Online, Digital Talent Scholarship, Next Indonesia Unicorn (NextIcorn), serta program lain yang bertujuan mengangkat ekonomi kerakyatan memanfaatkan teknologi digital. Permasalahannya, apakah setiap lapisan masyakarat sudah menerima informasi mengenai program-program pemerintah ini sehingga dapat turut berpartisipasi? Apakah masyarakat sudah , menerima informasi dengan lengkap, tepat, dan akurat sehingga dapat menggunakan informasi dengan maksimal?Di sinilah peran pers dibutuhkan. Pers diharapkan mampu menjadi corong penyampai informasi program-program pemerintah kepada masyarakat.

Government Public Relations (GPR) bersama Pers Mengawal Informasi Sampai Pada Masyarakat

Salah satu dampak dari era digital adalah cepatnya arus informasi. Informasi dapat disebar dan diakses oleh siapa saja, terlebih semenjak adanya media sosial.  Banyak sekali beredar informasi yang tidak tepat. Oleh karena itu, Pers harus menjadi bagian yang menangkal hoaks dengan memberikan pemberitaan yang tepat dan akurat. Pers harus dapat mengedukasi masyarakat tentang penyajian informasi yang lengkap, tajam, dan berimbang.  Jadi, sekalipun arus informasi dari media sosial sangat kuat, masyarakat dapat menjadikan penyajian informasi dari pers sebagai pembanding.

Sementara itu, pemerintah sendiri harus punya alat untuk memastikan bahwa program-program yang dicangkan pemerintah dapat diketahui oleh masyarakat. Hal ini tentu bermanfaat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Oleh karena itu, dibentuklah Government Public Relation.

Demi terwujudnya ekonomi masyarakat digital, pers dan GPR perlu bersatu dalam memberi informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai ekonomi digital dan program-program yang sedang dicanangkan oleh pemerintah. Dalam menjalankan fungsi dan perannya, Pers dan GPR wajib bekerja sama dan saling menguatkan.  Semua lapisan masyarakat diharapkan dapat memperoleh informasi dan dapat teredukasi dengan baik.

Penutup

Selain mempunyai potensi yang besar, Indonesia masih memiliki banyak kendala untuk mewujudkan masyarakat ekonomi digital. Hal yang paling utama sebenarnya dalah mengedukasi masyarakat agar menjadi pelaku ekonomi digital. Hal ini tidak bisa jika hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Pemerintah dalam hal ini diwakili GPR bersama dengan Pers wajib menggandeng para pelaku media untuk menyebarkan informasi juga mengedukasi masyarakat.

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blografisiana GPR Summit 2019

1 komentar untuk “Sinergi Pers dan GPR untuk Wujudkan Ekonomi Digital”

  1. Iya semua pakai internet tapi literasi digital kita masih rendah akibatnya tersebar hoaks, julid di akun artis dan lainnya, sedih..kita harus banyak kampanye literasi digital ini ya..

Bagaimana Menurut Kalian?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.